17+

Tulisan ini mungkin mengandung konten sensitif yang tidak cocok untuk anak-anak.

Tekan untuk melanjutkan.

Kembali

Keinginanku

3
YaBlox
6 Maret 2026

Karya: YaBlox


        Namaku Absa, seorang operator sekaligus guru pengganti yang baru saja lulus kuliah. Aku langsung diterima bekerja di sebuah sekolah menengah. Hidupku lumayan enak, dengan gaji 1,5 juta. Ya, meskipun sedikit, tapi cukup untuk biaya hidupku.

        Aku masih tinggal di rumah orang tuaku. Tentu saja, dengan gaji 1,5 juta, mana sanggup membeli rumah. Hidupku sebenarnya cukup nyaman, tetapi aku selalu merasa tertekan karena hidupku terus diatur oleh keluargaku.

        Saat masih bersekolah, aku tinggal bersama bibiku. Dia orang yang sangat baik, sering mendukung apa yang kulakukan, mendengarkan semua ceritaku, dan juga begitu kepada sepupu serta adikku yang lain. Kami tinggal bersama karena bibiku senang merawat anak-anak dari keluarganya. Aku terkadang merasa kasihan padanya, karena saudaranya tidak selalu mengirim uang, padahal dia sudah merawat banyak anak. Bibiku juga seorang janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya.

        Ketika kuliah, aku kembali tinggal bersama orang tuaku. Awalnya aku merasa tidak nyaman karena terasa asing dengan mereka. Sejak kecil hingga lulus sekolah menengah atas, hanya bibiku yang merawatku. Aku melihat kedua orang tuaku seperti orang yang baru kukenal. Awalnya canggung, sampai akhirnya terbiasa. Mereka orangnya sangat mengatur dan sering memberi kritik tanpa saran yang jelas.

        Hal itu sudah terjadi sejak dulu. Setiap kali orang tuaku mengunjungiku di rumah bibiku, mereka selalu mengomentari banyak hal tentang diriku.

“Kamu sering keluar rumah seperti tidak punya rumah.”
“Kenapa penampilanmu tidak teratur?”
“Nilai sekolahmu sangat buruk.”
“Berhenti melakukan hobi bodohmu yang tidak ada hubungannya dengan sekolah.”

         Mereka terus berkomentar tanpa memberi masukan. Saat aku mencoba berbicara, mereka berkata, “Berhenti membantah. Kamu masih belum tahu apa-apa.”

        Aku tidak bisa bercerita kepada mereka karena merasa tidak dimengerti. Bahkan ibuku pernah berkata malas berbicara denganku. Aku memang sudah besar, tetapi itu tetap menyakitkan.

        Aku mencoba mengabaikannya. Aku punya beberapa teman yang lebih tua, sekitar usia 30-an. Mereka cukup baik, seperti pengganti bibiku. Mereka mau mendengarkan semua ceritaku, bahkan cerita yang tidak jelas sekalipun. Mereka tertawa, memberi masukan yang membangun. Namun, setiap kali aku pulang ke rumah, semua rasa nyaman itu hilang. Orang tuaku terus mengatur. Saat aku memberi pendapat, mereka menolaknya mentah-mentah. Pokoknya, yang mereka inginkan harus terjadi. Aku hanya diam, meskipun itu bukan keinginanku.

        Aku tahu mereka ingin yang terbaik untukku. Aku tahu. Tapi rasanya justru mematikan diriku yang sebenarnya. Aku merasa seperti menjalani mimpi-mimpi mereka yang tidak tercapai. Aku lelah. Namun aku hanya diam, karena kupikir ini hal yang normal, meskipun menyakitkan.

        Yang paling kuinginkan hanyalah didengar. Setidaknya dengarkan ceritaku, jangan hanya mengabaikannya. Kadang aku merasa semua ini salahku. Bahkan pernah muncul keinginan untuk mengakhiri semuanya. Tetapi selalu ada satu suara kecil dalam diriku yang berkata, “Jangan.”

        Suara itu adalah mimpiku.

        Aku sangat ingin menjadi penulis. Aku ingin membuat cerita yang bisa membantu orang lain, membuat mereka bahagia melalui tulisanku. Saat kuliah, aku ingin mengambil jurusan sastra agar bisa mempelajari seni menulis dan berbicara lebih dalam. Namun orang tuaku menyuruhku mengambil jurusan keguruan. Mereka berkata, “Ambil yang pasti saja, jangan yang aneh-aneh.”

        Mungkin perkataan mereka benar. Tapi… apakah itu berarti aku tidak bisa menjadi penulis?

        Aku memang tidak punya banyak penghargaan. Namun aku pernah mendapat piagam dari lomba menulis. Meski tidak menang, setidaknya aku pernah merasakan sesuatu yang kusukai.

        Benar, sekarang aku punya pekerjaan yang pasti. Tapi aku tidak bahagia, karena ini bukan keinginanku. Aku tidak pernah meminta jalan hidup ini, lalu mengapa aku mendapatkannya?

        Hah! Sudahlah. Sudah terlalu lama sesuatu yang kuinginkan tak kudapatkan. Sudah lelah aku melakukan mimpi orang lain. Aku saat ini berdiri di atas atap sekolah yang memiliki 6 lantai. Duduk di bangku sekolah di mana para murid dilarang naik karena belum ada pagar pembatas. Aku kesini sebenarnya sudah melanggar. Aku sudah cukup berbicara sendiri. Tak sendiri juga. Cuma ada seekor kucing yang duduk di sampingku. Aku di atas sini sudah dari awal cerita hidupku yang hanya ada 2 makhluk hidup di atas gedung ini, aku dan seekor kucing saat ini.

        Sore hari yang indah. Semua murid telah pulang. Paling cuma anak ekstrakurikuler dan beberapa guru yang sedang tinggal di sekolah. Aku duduk di tepi gedung ini. Sekarang pukul 17:45 di mana matahari mulai turun, di mana matahari sore ini sangat indah. Hari ini sangat tenang, beban hidupku serasa hampir lepas sepenuhnya. Hanya ada satu hal yang terus mengganjal, aku tidak mau hari ini selesai. Matahari yang indah, tempat yang nyaman dengan pemandangan bagus, aku tidak mau ini berakhir. Aku berdiri dan membentangkan tanganku dan berjalan satu langkah dari tepi gedung ini. Aku menjatuhkan diriku dari lantai 6.

        Tubuhku jatuh dengan cepat. Angin melewati tubuhku. Aku terjatuh serasa bebas tanpa adanya beban hidup sama sekali. Benar-benar bebas. Pada saat akhirnya menghantam tanah, rasanya terasa hampa dan tenang tanpa adanya lagi beban, keinginan, bahagia, kesedihan. Semua itu hilang pada saat menghantam tanah, meskipun semua beban dan keinginanku hilang juga.

        Apakah ini yang kuinginkan? 
eksplisit

Penulis: YaBlox