Mendoakan Kematian
1
Ale
7 Maret 2026
Setiap kali teringat Nenek, aku berharap mati muda saja.
Aku menaiki rumah panggung ini sambil menjejaki anak-anak tangganya. Tidak banyak yang bisa kau harapkan dari perempuan tua yang tinggal sendirian di rumah ini. Muram, berdebu dan tentu saja tak terawat. Rumah panggung ini, atau yang kami sebut Banua Kaju (rumah kayu), adalah rumah yang dibangun seluruhnya dari kayu. Tipikal rumah tradisional masyarakat Bugis-Mandar di Sulawesi.
Aku menaiki tangga sembari memberi salam. Tidak mampu kuhindarkan bau busuk kotoran-kotoran ayam yang berserakan di beranda depan. Berdiri di depan pintu, aku pun kembali mengucap salam.
“Assalamualaikum”, ucapku lirih.
Tidak ada jawaban. Mungkin Nenek sedang tidak di rumah, batinku. Namun, langkah kakiku tak ingin berhenti. Aku melangkah masuk. Berada di hadapanku adalah pemandangan dapur yang seadanya dengan tungku kayu bakar dan belanga tergantung penuh jelaga. Mungkin Nenek berada di dapur, di balik sekat papan, hingga tidak mendengar salamku.
Rumah yang kumasuki ini terdiri dari empat lontang atau petak, walau sejatinya hanya ada sekat papan yang memisahkan dapur dengan ruangan yang lainnya. Tempat tidur sendiri pun hanya berupa ranjang usang yang tampak lusuh dan kumuh. Tidak ada perabotan di ruang tamu. Hanya ada lantai kosong yang tidak menopang apapun. Tidak ada kursi, tidak ada meja. Toh, penghuni rumah ini pun tak pernah juga menerima tamu khusus.
Aku mengintip ke balik sekat kayu yang membentuk ruangan dapur. Kosong. Tidak ada seorang pun. Nenek sedang tidak di rumah, baiknya aku pulang saja, ucapku pada diri sendiri. Aku membalikkan badan, bersiap untuk melangkah pulang. Namun, apa yang kulihat selanjutnya adalah pemandangan yang tidak bisa kulupakan sejak saat itu hingga hari ini. Aku kaget bukan kepalang.
Aku melihat tubuh yang secara harfiah hanya berbalut kulit. Tepat di sebelah kiriku, terbaring di atas ranjangnya dengan tenang, tak bersuara. Aku berdiri tegak, diam. Ini yang aku lakukan setiap kali melihat orang tua tertidur lelap, entah ayahku, ibuku, kakek atau nenekku. Aku selalu waspada dan mencari tanda-tanda kehidupan dari orang yang sedang tidur. Walau belum pernah menyaksikan langsung, aku selalu takut melihat kematian, terlebih menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa seseorang telah tak lagi bernyawa dalam tidurnya.
Pemandangan itu memilukan. Nenek hanya mengenakan selembar sarung yang melorot dari tubuhnya hingga hanya menutupi bagian perut ke bawah. Rambutnya yang beruban banyak, walau tidak putih seluruhnya, tergerai berantakan di atas bantal. Bagian dada dan perutnya telanjang. Payudaranya telah kendor sepenuhnya. Hanya tampak serupa kantong berbalut kulit tanpa isi. Tanpa lemak, tanpa jaringan otot di dalamnya. Kau seolah mampu menghitung jumlah tulang rusuk dalam sekali pandang. Perutnya bergerak! Nenek masih hidup.
Aku menatap wajahnya dengan lekat. Aku sendiri pun tidak tahu mengapa aku melakukan itu. Nenek bukan benda pajangan di museum, tapi aku menatapnya lama-lama. Aku memutuskan tidak akan mengganggunya dan akan kembali lain waktu saja.
Genggaman tangannya pada pergelangan tanganku ketika aku membalik badan, seketika membuatku berada dalam adegan film horor. Namun, tatapan mata yang sayu dan tampaknya mulai katarak itu, membuatku sadar. Aku berhadapan dengan nenek yang kuakrabi dari masa kecilku.
“Melo ko kupagguru mampallia’ setang? Kupagguru ko baca-bacana” (Maukah kamu kuajarkan melihat setan? Akan kuajarkan bacaannya), dengan suara yang lemah dan lirih, Nenek bertanya.
“Dau mo, Nek. Sule mo deh!” (Tidak usah, Nek. Aku pulang saja). Aku langsung menolak. Aku benar-benar berada dalam adegan horor. Bisa jadi akan semakin horor jika aku tinggal lebih lama. Aku buru-buru berpamitan pulang setelah meletakkan makanan titipan Ibuku ke lantai.
Aku menceritakan kejadian ini begitu tiba di rumah. Ibuku mengoreksi bahwa aku telah salah dengar. Yang ingin Nenek ajarkan kepadaku adalah memindahkan setan dari jalan, bukan untuk melihat setan. Orang-orang tua memang selalu punya banyak “baca-baca” (jampi/mantra), batinku.
Otakku mencerna kata-kata ibu. Mungkin aku memang telah salah dengar. Kemampuan bahasa Pattae’-ku yang tidak dalam itu juga terasa semakin menurun seiring waktu dan pergaulan yang hampir seluruhnya selalu menggunakan bahasa Indonesia.
Nenek adalah orang tertua nomor dua di kampungku, setelah kakekku kandungku. Usianya mungkin telah lebih dari 80 tahun. Sepanjang ingatanku, Nenek memang selalu tinggal sendirian. Suaminya meninggal karena sakit, pun anaknya meninggal ketika belum lagi menginjak 20 tahun, begitu kakekku bercerita.
Aku tidak bisa membayangkan menjadi perempuan tua, renta, lemah, dan tinggal sendirian. Gambaran seperti itu- entah kurasai begitu memilukan.
Nenek tidak memiliki keturunan yang masih hidup. Namun, semua orang di kampung adalah keluarga. Setidaknya, garis kekerabatannya masih bisa ditelusuri hingga generasi seusia Nenek. Nenek sendiri adalah tante dari ayahku, walau bukan garis kekerabatan dekat. Mungkin Nenek adalah sepupu dua kali atau tiga kali dari kakekku- bapak ayahku.
Aku ingat benar, Nenek membantu proses persalinan ibuku dulu, ketika Ibu melahirkan adikku yang bungsu. Nenek juga kerap dimintai bantuan ketika ada anak kecil di kampung kami yang sakit. Nenek umpama telah menjelma menjadi dukun. Tapi, bukannya memang begitu? Orang-orang tua masih kerap dianggap memiliki kemampuan khusus dalam menangani masalah tertentu, penyakit atau bahkan tolak bala. Mungkin juga orang-orang meyakini Nenek memiliki baca-baca (jampi-jampi) yang mampu memindahkan setan dari jalan.
Setiap kali melihat Nenek, aku berharap agar mati muda saja. Dapatkah kau membayangkan dirimu puluhan tahun hidup dalam kesendirian? Aku sendiri tidak. Nenek hidup sendirian di rumah kayunya. Mencari kayu bakar sendiri untuk dapurnya. Kerap ia juga masih sesekali mencari hasil bumi di kebunnya. Apapun yang bisa dijual. Mungkin kakao, atau sekadar jambu untuk diberikan kepada cucu-cucunya.
Nenek hidup dalam kesederhanaan— jika tidak ingin menyebutnya kekurangan, bukan karena tidak punya uang. Para tetangga, yang tentu juga masih memiliki hubungan kekerabatan, yang juga masih menganggap Nenek sebagai orang tua, tak jarang memberikan Nenek uang jika musim buah tiba. Namun, Nenek menghilangkan semua uang yang dimilikinya. Ingatan Nenek memang telah memburuk. Ia tidak lagi mampu mengingat apa yang kau katakan padanya sepuluh menit yang lalu. Oleh karena itu, kami lebih memilih memberikannya bahan makanan dibandingkan uang.
Jika siang hari, Nenek kerap mengunjungi salah satu di antara rumah kami, dengan menyeberang jalan raya. Tetangga sering memprotes tindakan ini, sebab ini membahayakan keselamatan Nenek sendiri. Seorang tetangga telah membuatkan saluran pipa air bersih yang bermuara tepat di depan rumah Nenek. Namun, Nenek lagi-lagi masih nekat menyeberang jalan sambil menenteng embernya sendiri.
Entah telah berapa kali kami mendegar suara decit ban kendaraan yang harus mengerem mendadak karena tindakan Nenek ini. Setiap kali hal itu terdengar, kami akan spontan berlarian mendekati jalan raya atau mengarahkan pandangan ke arah situ untuk mengetahui apa yag terjadi. Apakah ada yang terluka? Siapa? Pertanyaan seperti itu muncul secara beruntun dalam kepalaku disambut ketakutan, kekhawatiran, dan tubuhku yang kurasa lemas duluan.
Sialnya, Nenek selalu menolak dibantu menyeberang. Kerap aku hanya terpaku di kejauhan dengan detak jantung yang tak karuan sambil memandang dengan seksama mengawasi Nenek ketika ia menyeberang jalan dengan tongkat kayu dan langkahnya yang pelan terbata-bata.
Aku pernah mendengar Nenek ditegur tetangga. Bukan karena ia menyeberang jalan, tapi karena ia keluyuran pada saat dini hari hingga ditemukan di kampung sebelah. Pua Anca- seorang lelaki yang dituakan di kampungku, berbicara kepada Nenek dalam nada yang tinggi sambil menyebut Nenek telah hilang akal.
“Apa kona maling mo ko!” (Karena kamu sudah gila!) Seru Pua Anca bercampur kesal.
“Menda tau maling?! Tae ra dengan tau maling." (Siapa yang gila?! Tidak ada orang yang gila!) Nenek membela diri. Nenek selalu menolak disebut hilang akal dan mengatakan dirinya baik-baik saja.
Aku tahu, Pua Anca tidak bermaksud membentak Nenek. Beliau meninggikan suara karena tahu bahwa Nenek sudah agak kurang pendengarannya. Aku juga tahu para tetangga mengerumuni Nenek dan merasa kasihan terhadapnya. Namun, apa yang bisa kami lakukan? Nenek menolak untuk tinggal dengan salah seorang di antara kami. Ia menolak meninggalkan rumahnya. Kami toh juga tidak mungkin mengurung Nenek di rumahnya. Oh Tuhan!
Minggu lalu, Nenek berulah lagi. Ia mengunjungi rumah yang kutinggali dengan maksud untuk mengobrol sedang waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Tetangga yang melihat Nenek di teras rumah, menegur Nenek, sambil mengatakan bahwa hari masih terlalu pagi untuk itu. Sedang dalam anggapan Nenek, hari sudah siang pada saat itu.
Sekarang kau tahu mengapa aku berharap mati muda saja. Aku tidak bisa membayangkan diriku menjadi tua, renta, kehilangan fungsi anggota tubuh, dan menua sendirian dalam kesepian. Hidup hanya akan menjadi sekarat yang terlalu panjang. Daripada harus hidup sendirian, aku berharap mati muda saja. Bukankah berumur panjang adalah kutukan?
Sejak peristiwa itu, beramai-ramai tetangga menasihati Nenek untuk tidak keluyuran sembarang waktu. Tapi, untuk apa?, batinku. Nenek akan melupakan semua yang kalian katakan padanya beberapa menit kemudian. Daya ingatnya sudah begitu menurun.
Melihat Nenek selalu membuatku merasa iba. Namun, aku juga tidak bisa meghabiskan banyak waktu dengannya dan mengulang-ulang cerita yang sama setiap kali ia lupa pada apa yang telah kukatakan sebelumnya. Bahkan, aku kerap harus mengulang-ulang identitas diriku di hadapannya. Aku siapa dan anak siapa, kujelaskan kepadanya setengah teriak.
Tuhan, bisakah aku mendoakan kematian atas diri seseorang? Tidakkah kematian lebih baik atas diri Nenek daripada hidup yang tak ubahnya sekarat yang terlalu panjang ini baginya? Atau bisakah aku mati muda saja, Tuhan?
Polewali Mandar, 2023
Penulis: Ale