17+

Tulisan ini mungkin mengandung konten sensitif yang tidak cocok untuk anak-anak.

Tekan untuk melanjutkan.

Kembali

Seutas Tali

29
YaBlox
4 Januari 2026

Karya: YaBlox


        Hari ini aku terbangun seperti biasa. Namaku adalah Suta. Aku harus segera bersiapsiap untuk pergi ke sekolah. Kehidupan ini terus berjalan seperti ini. Aku tidak dapat melakukan apa pun selain ini.

        Aku harus segera bersiap sekolah. Aku lewat di depan gerbang, semua orang melihatku dengan pandangan jijik karena aku hanyalah anak miskin yang hidup sebatang kara. Hidupku kurang lebih hanyalah seperti seseorang yang terbuang. Aku digosipkan sebagai murid payah, bau, miskin, dan anak haram. Aku ditinggalkan orang tuaku saat kecil dan hanya mengharapkan uang dari keluargaku yang tak seberapa. Setelah aku lulus SMP, aku bekerja paruh waktu untuk makan karena uang yang diberikan padaku dari keluargaku tidak cukup.

        Sekarang, aku sudah kelas 2 SMA. Saat aku sampai di kelas, semua orang menjauhiku. Semua orang membicarakan tentang bajuku yang lusuh hingga aku dilempari kertas oleh anak populer dan kaya di sekolah. “Hey, lihat anak itu! Dia seperti tinggal di kandang anjing!” Sakit. Tapi aku hanya bisa diam karena dia adalah anak orang kaya dan donatur sekolah. Aku pernah melawan, tapi malah disalahkan dan dihukum. Aku hanya bisa bertahan. Guru pun hanya dapat melihat tanpa melakukan sesuatu.

        Saat pulang, untungnya hari ini aku tidak dibully lagi. Biasanya aku dilempari air selokan ataupun air bekas pel, dan bahkan ditendang sampai jatuh. Tapi entah kenapa hari ini tidak. Aku pun pergi ke sebuah toserba, tempat aku bekerja.

        Sialnya, hari ini saat aku bekerja, ada barang yang hilang dari gudang. Aku dituduh mencuri barang hingga akhirnya dipecat. Aku pun langsung merasa kecewa dan sakit hati karena aku dituduh. Saat aku pergi ke belakang toko, aku mampir ke sebuah warung. Di saat itu, aku menyadari siapa yang mencuri barang di toko. Itu adalah anak yang sering membullyku. Dia melihat pintu belakang gudang terbuka. Dia tahu aku bekerja di toserba itu. Sialnya, hari ini aku lupa mengunci pintu belakang. Ini juga salahku.

        Aku tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka langsung pergi dengan motor mewah mereka. Aku hanya berpikir untuk mengakhiri hidup ini. Aku pergi ke toko bangunan dan menggunakan sisa uangku untuk membeli tali tambang sepanjang satu meter. Pada malam hari, aku pergi ke taman yang sering kudatangi. Di sini, biasanya aku bertemu gadis bernama Lin. Dia adalah gadis cantik berambut hitam, kulitnya seputih salju, dan berambut pendek sampai leher. Dia satu-satunya orang yang mau berbicara denganku. Dia adalah teman baikku. Aku bahkan menyukainya.

        Saat itu, aku terus memikirkannya sambil membuat simpul tali. Aku mengikatkan tali itu di leherku. Saat aku mulai kesulitan bernapas karena tali yang mengikat leherku, aku pun tak sadarkan diri. Dalam ketidaksadaranku, aku berpikir:

Kenapa aku melakukan ini?
Aku seharusnya masih bisa melanjutkan hidupku.
Apakah ini yang terbaik?
Apakah jika aku mati, hidupku akan lebih baik?
Inikah yang aku inginkan?

        Di saat itu, aku melihat secercah cahaya. Aku membuka mataku dan melihat sosok seseorang yang tampak familiar. Ternyata aku tidak jadi mati. Aku terbangun dan mendengar suara seseorang, “Ohh, kamu sudah bangun... syukurlah kau masih selamat.”

        Saat itu aku menyadari bahwa aku berada di kursi taman, di samping pohon yang kupakai untuk menggantungkan tali. Suara itu terdengar cemas dan menangis, “Kenapa kamu sangat bodoh melakukan hal itu? Aku merasa sangat sakit saat melihat kamu tergantung di pohon!” Aku pun tersadar bahwa wanita itu adalah Lin.

        Satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku. Satu-satunya yang mau berbicara denganku. Dia lebih berharga daripada orang tua yang membuangku dan keluargaku yang hanya menempatkanku di sebuah kos-kosan kecil. Aku sadar bahwa yang kuinginkan adalah menjaga hal yang berharga padaku. Aku berkata, “Maafkan aku, Lin. Akhirnya aku tahu aku mau apa.” Lin berhenti menangis dan berkata, “Aku tidak mau kau pergi.” Saat itu aku sadar bahwa Lin adalah orang terpenting bagiku.“Lin, mulai saat ini, aku akan menjaga dirimu sampai akhir, dan menjaga diriku juga,” ujarku.

        Aku pun beranjak dari pangkuan Lin dan mengajaknya pergi dari taman itu, dan juga meninggalkan tali itu.

eksplisit

Penulis: YaBlox