Tempat Menyimpan Kenangan
Media sosial membuatku lelah. Berita politik, ekonomi, informasi selebriti, hingga pendengung rezim, silih berganti mengisi layar ponselku. Namun, ada satu hal lain lagi tentang media sosial yang membuat energiku terkuras, yaitu membuat konten atau mengunggah cerita di Instagram.
Aku bisa menikmati semilir angin pantai dan tidak mengunggahnya. Aku bisa melakukan jalan pagi, yang kumulai pukul 9 pagi itu dan tidak mengambil satu foto pun. Aku bisa menikmati masakan ibuku dan tidak mengatakan apapun tentangnya. Aku bisa membaca sebuah buku dan tidak memublikasikan satu kutipan pun dari buku itu, tidak juga mengambil foto apapun yang menunjukkan bahwa aku sedang membacanya. Bagiku, tidak ada rasa kehilangan atau perasaan tertinggal jika tidak mengunggah apapun tentang aktivitas keseharian. Tidak ada kewajiban untuk mengabarkan kepada publik tentang apa yang sedang kulakukan.
Sayangnya, beberapa hal berubah ketika sedang berkumpul dengan teman-teman. Banyak hal yang ingin didokumentasikan sebagai kenangan di kepala, disimpan sebagai foto dan video dalam ponsel masing-masing, dan tentu saja diunggah ke media sosial sebagai cerita dan kiriman terutama di Instagram.
Ketika sedang bersama teman-teman, aku hanya ingin menikmati kebersamaan. Kebersamaan yang tidak didapatkan setiap hari, melainkan setelah melalui penyesuaian jadwal masing-masing bahkan seminggu sebelumnya. Tipikal pergaulan usia dewasa memang. Kebersamaan yang didapatkan melalui tekad dan usaha itu terasa begitu sayang jika berlalu tanpa dokumentasi apapun.
Sialnya, dalam perkara dokumentasi ini pulalah aku tak jarang kehabisan energi. Mungkin juga kehabisan minat, sebenarnya. Bagiku, dokumentasi pertemuan suah cukup dalam 2-3 foto. Namun, tidak begitu bagi teman-temanku. Sebuah pertemuan yang telah susah payah kami upayakan, harus mewujud dalam sebuah video selang waktu, video biasa, foto makanan, beberapa foto perseorangan dan rombongan, serta satu hal yang paling tidak kusukai, yaitu video Tiktok.
Media sosial selalu memiliki banyak sisi untuk direnungkan, dan dokumentasi ini adalah salah satunya. Lalu, aku sampai pada satu pertanyaan: untuk siapa dokumentasi kebersamaan itu ditujukan? Kita tentu menghargai pertemuan dan kebersamaan dalam ingatan masing-masing, sebagaimana kita menumpuk kenangan demi kenangan. Namun, ketika pengambilan foto dan video-video itu terus menuntut pengambilan sudut kamera yang sempurna, pencahayaan yang apik, lagu yang sesuai, tren yang sedang ramai, filter kamera yang mempercantik, hingga sinkronisasi gerakan yang harmonis– terutama dalam pembuatan video Tiktok yang butuh waktu hingga 30 menit untuk hasil video yang hanya berdurasi 15 detik, jiwaku yang minim energi ini sekali lagi bertanya, untuk apa semua hal ini dilakukan?
Aku bukan pemengaruh media sosial, bukan pula seorang pembuat konten. Begitu juga dengan teman-temanku. Namun, tampaknya dokumentasi tetaplah harus dibuat se-estetik mungkin. Entah untuk dinikmati publik yang seberapa luas. Sebagian besar pengikut media sosialku hanyalah teman-teman dari berbagai jenjang pendidikan yang telah kulalui, orang-orang yang dengannya aku pernah berinteraksi langsung. Membuat uanggahan cerita di Instagram adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa diri ini masih hidup, mana tahu ada temanku yang segan untuk menanyakan kabarku secara langsung.
Dan hidup selalu punya humornya sendiri. Aku yang minim energi dan malas dokumentasi ini berkawan dengan orang-orang penuh energi yang memerhatikan dokumentasi hingga sedetail mungkin. Dengan mereka itulah aku berkompromi. Tampil di depan kamera, menghapal lirik lagu, melakukan koreografi, hingga berpasrah dengan filter kamera yang membuat wajahku tiba-tiba bergincu merah dan berkulit cerah.
Sebagai orang dewasa yang mulai kehabisan teman– sebab rupanya demikianlah adanya keidupan dewasa, memiliki oknum-oknum teman yang suka jalan, jajan, foto estetik, pengikut tren media sosial, yang masih mengupayakan pertemuan, tidaklah rugi-rugi amat jika dipelihara. Mungkin kenangan bukan hanya tentang apa-apa saja yang diunggah, tapi juga tentang apa yang terjadi di belakang kamera, alias behind the scenes-nya.
Polewali Mandar, 07 Juni 2026
